MARAH DALAM PERSPEKTIF SPIRITUAL

spiritual, menurut Ngestu Raharjo adalah wajar dengan
catatan tidak disertai kebencian. Akan tetapi, sampai sejauh mana kemarahan
bisa dianggap suatu kewajaran? Marilah kita ikuti pendapat sahabatnya.
Begini katanya:
“Karena marah bagi saya adalah sarana untuk mengoreksi. Kalau saya salah,
saya dimarahi oleh atasan atau teman. Kalau bawahan atau anak-anak saya
salah, saya marahi. Yang perlu, kemarahan itu harus proposional. Dan
kemarahan tidak otomatis berarti
kebencian. Apakah kalau kita memarahi anak itu kebencian? Bagi saya
kemarahan disini adalah wujud cinta kita padanya.
Dan kebencian tidak harus selalu diekspresikan dengan kemarahan, ia bisa
juga dinyatakan dengan sikap manis. Misalnya saya benci kepada seseorang,
lalu saya bujuk
dia dengan kata-kata manis, sikap sopan untuk minum madat, supaya dia
rusak. Dalam kasus ini kemarahan adalah ‘virtues’ sedangkan sikap manis
adalah ‘evil’.
Jadi kemarahan….kebencian adalah dua hal yang
terpisah”.
Hingga batas-batas tertentu, saya merasa memperoleh suatu pelajaran yang
amat bermanfaat tentang kemarahan dan kebencian darinya. Kebencian
memperlihatkan sisi
yang lebih esensial dari marah itu sendiri. Maksud saya, benci berada pada
strata kedalaman yang lebih ketimbang sekedar marah.
Nah…bila memang demikian, yang patut menjadi perhatian kita –dalam
relevansinya dengan pengembangan batin– adalah benci.
Membenci perbuatan buruk dan menghindarinya, menjadi amat esensial disini.
Disinilah pandangan kita terhadap sesuatu terpampang jelas. Kebencian boleh
saja sangat tersembunyi, tersimpan rapi di dalam sehingga tidak tampak di
permukaan, namun kemarahan bisa juga terekspresi langsung melalui ucapan,
sikap dan cara kita menyikapi, dan oleh karenanya dirasakan langsung oleh
korbannya.
Kemarahan Menurut Kacamata Islam
Sifat marah termasuk dalam manajemen Qalbu. Diri yang labil kepada
kecenderungan terhadap sifat-sifat disebut qalb (diri) yang terombang-ambing.
Nafs artinya Jiwa, kata nafs berasal dari bahasa Arab, tapi sebagian orang
mengadaptasikan kata nafs menjadi nafsu, dan sebagian lagi mengartikan nafas.
“Dan aku tidak membebaskan diriku (nafs), dari kesalahan. Sesungguhnya An
nafs selalu menyuruh kepada kejahatan…” (Q.S. Yusuf, 12.53)
“Dan Aku bersumpah dengan An Nafs (jiwa yang amat menyesali dirinya.” Q.S.
Al Qiyamah, 75:2)
“Wahai Jiwa yang tenang…” (Q.S. Al Fajr, 89:27)
Ketiga ayat tersebut diatas menunjukkan bahwa An Nafs itu artinya diri.
Nafs Ammarah bissu (diri yang buruk), kemudian Nafs Lawammah (diri
menyesal) dan Nafs Muthmainah (diri yang tenang). Semua sifat itu ada pada
diri (An Nafs). Diri yang labil kepada kecenderungan terhadap sifat-sifat
itulah yang dinamakan qalb (diri) yang terombang-ambing, sedangkan Allah
memanggil kepada diri yang tenang dan jernih (muthmainah) dalam firmannya
“Wahai jiwa (diri/nafs) yang tenang datanglah kepada tuhanmu dengan ridha
dan diridhai olehNya.” (Q.S. Al Fajr, 89 ayat : 27-28).
Dengan demikian Al Quran memberikan penjelasan, bahwa sungguh beruntung
orang yang membersihkan dirinya dari sifat-sifat yang tidak baik agar tidak
diombang-ambingkan oleh sifat-sifat tersebut, sehingga menjadi diri yang
muthmainah. Diri yang Muthmainah adalah diri yang selalu mendapatkan ilham
ketakwaan yang mendorong kepada perbuatan baik atau ihsan.
Konklusi :
Marah sebagai terapi manajemen, memang anti-budaya. Budaya kita terkenal
untuk mengajarkan kita agar selalu santun, dan bersabar. Namun untuk
menerobos sebuah kemapanan yang buntu dan berkarat, marah bisa saja
menjadi anti-budaya yang dibenarkan. Asal jangan saja asal marah.
Marahlah dengan bijaksana. Marah dengan tidak melibatkan emosi kebencian.
Rambu-rambu agama mengingatkan kalau amarah itu sifatnya api, sifat api itu
panas.
Bara api itu bisa perlu-bisa tidak, tergantung penggunaannya secara bijak,
bisa buat menyulut kompor bisa juga untuk membakar rumah.
Nasehat Sang kepiting : Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu
kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa
mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang,
kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan
air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan
panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.
Nasehat untuk yang muslim, cukup baca Istighfar, ambil air wudhu, api
amarah padam oleh sang air suci…cssssssssssss!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s